Ziarah mahabbah bersama dewan guru Darussalam Al-Waliyyah, Abi Hidayat Muhibbuddin WalyBunda Wardiati Djamaluddin Waly dan beberapa cucu Abuya Muda Waly berziarah ke makam Abu Daud Zamzami. Perjalanan ziarah mahabbah ini bertujuan untuk merajut kembali tali silaturahmi keluarga besar Darussalam ke keluarga ulama-ulama kharismatik alumni Darussalam, tabarrukan dan juga sebagai napak-tilas perjuangan mereka dalam menuntut ilmu agama. Perjalanan ziarah ini dimulai dari tanggal 9 s/d 12 Oktober 2022. 

Adapun makam-makam yang diziarahi adalah

  1. Makam Ummi Salwati binti Syeikh Hasan Lamno (istri alm. Abuya Djamaluddin Waly).
  2. Makam Abu Muhammad Daud bin Teungku Zamzami (murid Abuya Muda Waly).
  3. Makam Abu Abdul ‘Aziz bin M. Shaleh / Abon Aziz Samalanga (murid Abuya Muda Waly).
  4. Makam Abu Abdullah Hanafi / Abu Tanoh Mirah (murid Abuya Muda Waly).
  5. Makam Abu Muhammad Amin Mahmud bin Teungku Muhammad Mahmud (murid Abuya Muda Waly).
  6. Makam Abu Muhammad Daud Ahmad / Abu Daud Lueng Angen (Alumni Dayah MUDI).
  7. Makam Abu Abdul Wahab / Abu Matang Perlak (murid Abuya Muda Waly).
  8. Makam Abu Muhammad Thaib / Abu Batee Lee (murid Abuya Muda Waly)
  9. Makam Abu Karimuddin Amin / Abu Alue Bilie (murid Abuya Muda Waly)
  10. Makam Abu Hanafi Syubramah / Abu Matang Keh (murid Abuya Muda Waly)
  11. Makam Ummi Nuraida binti Tgk Usman Ubit (istri Abi Ghani Aron).
  12. Perpustakaan Aceh Kuno Abu Tanoh Abee.

Berikut sedikit biografi Abu Daud Zamzami:

Ulama Kharismatik, Tokoh Dayah dan MPU Aceh.

Beliau berasal dari keturunan teungku dan pengawal agama. Nama lengkap beliau adalah Teungku Muhammad Daud bin Teungku Zamzami bin Teungku Cut Dalam, berasal dari Lam Teungoh Aceh Besar. Sedangkan dari jalur ibunya, beliau juga memiliki darah teungku yaitu Teungku Mahyuddin kakek dari Ibunya Zainabah. 

Semenjak kecil Teungku Muhammad Daud Zamzami atau akrab disebut dengan Abu Daud Zamzami telah akrab dengan dunia dayah dan pesantren. Beliau belajar langsung kepada ayahnya juga kepada kakek dari pihak ibunya yang memimpin pesantren tersebut. Abu Daud Zamzami tumbuh dalam keadaan mencintai ilmu pengetahuan. Sehingga tidak mengherankan pada usia sebelum baligh beliau sudah mulai 'meudagang' di beberapa pondok pesantren tersohor pada masanya. 

Setelah menguasai dasar-dasar keilmuan yang dipelajari dari orang tuanya, Abu Daud Zamzami dalam usia sekitar 13 tahun mulai belajar pada ulama besar Aceh Abu Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee di Dayah Lam Seunong Aceh Besar. Kepada Syekh Hasan Krueng Kalee beliau mempelajari berbagai cabang keilmuan Islam seperti fikih, ushul fikih, tauhid, tasauf dan ilmu-ilmu lainnya. 

Sekitar empat tahun beliau memperdalam keilmuannya kepada ulama kharismatik tersebut tentu telah memiliki perbekalan yang memadai untuk melanjutkan pengajian beliau secara mendalam kepada Abuya Syekh Muda Waly di Dayah Darussalam Labuhan Haji pada tahun 1953. Di antara teman segenerasi beliau adalah ulama kharismatik Aceh Abu Tu Min Blang Bladeh, Abu Abu Bakar Sabil Meulaboh, Abu Hanafi Matangkeh dan ulama lainnya. Sedangkan Abu Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih senior dari mereka satu dua tingkat. Namun mereka semua dapat mengikuti kelas khusus bersama Abuya Muda Waly dalam kelas Bustanul Muhaqiqin yang mashur itu.




Dengan segenap kesungguhan Abu Daud Zamzami belajar, sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama. Abu Daud Zamzami pada tahun 1960 meminta izin kepada Abuya Syekh Muda Waly untuk pulang kampung. Sesampai kembali di kampung halaman, setelah belajar beberapa tahun di Dayah Darussalam Labuhan Haji, beliau mengabdikan ilmunya di Dayah Ulee Titi yang saat itu dipimpin Abu Ishaq al-Amiry Ulee Titi ayahnya Abu Athaillah Ishaq Ulee Titi yang merupakan menantu Abu Daud Zamzami.

Sekitar dua tahun Abu Daud Zamzami mengabdikan ilmunya di Dayah Ulee Titi, pada tahun 1963, beliau mulai menghidupkan kembali dayah kakeknya Dayah Riyadhus Shalihin Desa Ateuk Anggok Kuta Baro Aceh Besar. Karena sebelum beliau membangun dayahnya Riyadhus Shalihin, ditempat yang sama dulunya Teungku Mahyuddin dan Teungku Daud Rabeu pernah memimpin pesantren tersebut beberapa tahun hingga keduanya wafat.

Setelah beberapa tahun mengabdikan diri sebagai teungku dayah, dalam sebuah pertemuan yang dipimpin Abu Abdullah Ujong Rimba pada tahun 1965 yang membahas tentang komunis ketika itu. Pertemuan tahun 65 tersebut merupakan cikal bakal berdirinya MUI Aceh yang pada waktu itu namanya MUA Singkatan dari Majelis Ulama Aceh yang Ketuanya adalah Teungku Haji Abdullah Ujong Rimba sampai beliau wafat.

Semenjak berdiri MUA tahun 1965 bahkan ketika berubah nama menjadi MUI Aceh dan selanjutnya MPU Aceh, Abu Daud Zamzami terlibat secara aktif sebagai ulama perwakilan Aceh Besar yang kemudian beliau menjadi salah satu wakil MPU Aceh. Abu Daud Zamzami mengetahui persis sejarah MPU Aceh dan setiap rumusan fatwa-fatwa MPU Aceh.




Abi Hidayat Muhibbuddin Waly bersama cucu Abu Daud Zamzami

Selain ulama yang aktif di MPU Aceh, Abu Daud Zamzami juga merintis organisasi persatuan dayah Aceh atau dikenal dengan Inshafuddin, terhitung dari tahun 1968 sampai 2004 beliau menjadi tokoh Inshafuddin dan memimpin organisasi tersebut. Sebagai seorang yang matang dalam percaturan Dayah, Abu Daud Zamzami juga aktif di beberapa organisasi Ahlussunnah Waljama’ah seperti PERTI bahkan beliau pernah menjadi ketua PERTI sebelum Tgk H Mohd Faisal Amin.

Setelah meninggalnya Abu Muslim Ibrahim, Abu Daud Zamzami menyempurnakan pengabdian beliau sebagai Ketua MPU Aceh. Dalam usia 85 tahun beliau masih terlihat enerjik dan gagah untuk usianya. Ingatan beliau masih kuat, namun fisik beliau tentu tidak sekuat dahulu, karena beliau lahir di tahun 1935.

Tentu telah banyak upaya positif yang beliau lakukan dalam berbagai sektor agama di Aceh. Banyak kebijakan strategis yang lahir dari pemikiran-pemikiran jernihnya. Beliau dengan segudang kiprahnya tentu tidak bisa dianggap sepele. Telah dipersembahkan tenaga, usaha dan bahkan usianya untuk mengawal pemahaman agama di Aceh. Dan pada tahun 2021 Abu Daud Zamzami wafat dalam usia beliau 86 tahun.

Source: Nurkhalis Mukhtar