Dialih bahasa oleh Tgk. Ahmad Shofari dari kitab Ar-Rahiqul Makhtum cetakan Darul Kutub Ilmiyah tahun 2007 karya Fadhilatus Syeikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri.
A. NASAB NABI MUHAMMAD SAW
Silsilah nasab Nabi Muhammad SAW. ada tiga pembahagian:
- Bagian yang telah disepakati keshahihannya oleh para ahli sejarah dan ahli nasab adalah nasab Nabi Muhammad SAW itu sampai Adnan.
- Bagian yang terjadi perselisihan pendapat antara yang mengatakan nasab Nabi sampai Adnan dengan yang berpendapat nasab Nabi melewati Adnan sampai kepada Nabi Ibrahim a.s.
- Bagian yang tidak kita ragukan lagi, bahwa pada bagian ini terdapat perkara-perkara yang tidak shahih. Yaitu pendapat nasab Nabi melewati Nabi Ibrahim a.s. sampai kepada Nabi Adam a.s.
Berikut penjabaran rincian bagian-bagian tersebut:
1. Bagian Pertama
- Muhammad bin
- Abdullah bin
- Abdul Muthallib (namanya: Syaibah) bin
- Hasyim (namanya: Amru) bin
- Abdu Manaf (namanya: Al-Mughirah) bin
- Qushai (namanya: Zaid) bin
- Kilab bin
- Murrah bin
- Ka'ab bin
- Lu'ai bin
- Ghalib bin
- Fihr (yang dilaqab dengan Quraisy dan Qabilah Quraisy bernasab kepadanya) bin
- Malik bin
- Nadhar (namanya: Qais) bin
- Kinanah bin
- Khuzaimah bin
- Mudrikah (namanya 'Amir) bin
- Ilyas bin
- Mudhar bin
- Nazar bin
- Ma'ad bin
- 'Adnan
Referensi Mushannif: Ibnu Hisyam Juz 1 hal. 1, Talqih fuhumi ahlil Atsar hal. 5 dan 6, Rahmatul lil'alamin juz 2 hal. 11, 12, 13, 14 dan 52.
2. Bagian Kedua (melewati 'Adnan)
- 'Adnan bin
- Ad bin
- Humaisa' bin
- Salaman bin
- 'Aush bin
- Bauz bin
- Qimwal bin
- Ubay bin
- 'Awam bin
- Nasyid bin
- Hiza bin
- Baldas bin
- Yadlaf bin
- Thabikh bin
- Jahim bin
- Nahisy bin
- Makhi bin
- 'Aidh bin
- 'Abqar bin
- 'Abid bin
- Ad-Du'a bin
- Hamdan bin
- Sanbar bir
- Yatsribi bin
- Yahzan bin
- Yalhan bin
- Ar'awi bin
- 'Aidh bin
- Daisyan bin
- Aishar bin
- Afnad bin
- Aiham bin
- Muqshar bin
- Nahist bin
- Zarih bin
- Sami bin
- Mazi bin
- 'Audhah bin
- 'Aram bin
- Qaidar bin
- Isma'il bin Ibrahim 'alaihimas salam
Referensi: Al-'Alamah Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri mengumpulkan bagian nasab ini dari riwayat Al-Kalibi dan Ibnu Sa'ad setelah melalui tahqiq (penelusuran) yang dalam. Lihat kembali kitab Rahmatul lil'alamin juz 2, hal. 14, 15, 16 dan 17. Di kitab tersebut terdapat perselisihan yang besar diantara rujukan-rujukan sejarah.
3. Bagian Ketiga (melewati Ibrahim a.s.)
- Ibrahim bin
- Tarah (namanya: Azar) bin
- Nahur bin
- Saru' atau Sarugh bin
- Falikh bin
- 'Abir bin
- Syalikh bin
- Arfakhsyad bin
- Sam bin
- Nuh a.s. bin
- Lamak bin
- Matusyalikh bin
- Akhnukh (dikatakan Idris a.s.) bin
- Yarid bin
- Mihlail bin
- Qinan bin
- Anusyah bin
- Syits bin Adam 'alaihimas salam
Referensi: Ibnu Hisyam juz 1, hal. 2, 3 dan 4, Talqih fuhum Ahlil Atsr hal 6, Khulasah Sir Lil At-Thabri hal. 6, Rahmatul lil'alamin juz 2 hal. 18. Rujukan-rujukan ini berbeda pada pelafadzan sebahagian nama. Begitu juga ada sebagian nama-nama yang digugurkan dari beberapa rujukan.
B. KELUARGA NABI MUHAMMAD SAW
Keluarga Nabi Muhammad SAW. dikenal dengan "Al-Hasyimiyyah" (nisbah kepada kakek Nabi; Hasyim bin 'Abdu Manaf). Kita akan menyebutkan perihal-perihal mengenai Hasyim dan generasi sesudahnya.
1. Hasyim
Hasyim merupakan orang yang mengurus pemberian air minum dan pertolongan kepada jama'ah haji, berasal dari golongan Bani 'Abdu Manaf ketika perdamaian pembagian jabatan antara Bani 'Abdu Manaf dan Bani 'Abdud Dar. Hasyim merupakan seorang yang kaya lagi memiliki kemuliaan yang besar. Beliaulah orang yang pertama kali memberikan roti tsarid (roti bercampur kuah/bubur) bagi jama'ah haji di Kota Makkah. Namanya adalah 'Amru lalu dilaqab Hasyim karena Hasymahul khubza (meremukkan roti). Beliau juga orang yang pertama kali memulai dua musim rihlah/rihlatain (perjalanan) untuk Quraisy, rihlah syita' (perjalanan musim dingin dan musim panas). Mengenai hal tersebut seorang penya'ir bersenandung:
عمرو الذي هشم الثريد لقومه قوم بمكة مسنتين عجاف
سنت اليه الرحلتان كلاهما سفرالشتاء ورحلة الأصياف
"'Amru yang meremukkan roti untuk kaumnya di kota Makkah yang tua nan kurus,
Melakukan dua perjalanan; perjalanan musim dingin dan musim panas".
Pada saat usia muda, ia berangkat ke Syam untuk berdagang. Ketika tiba di Kota Madinah, ia menikahi Salma binti 'Amru (salah seorang Bani 'Adi bin Najar), menetap disana untuk beberapa saat lalu berangkat lagi menuju Syam. Sementara istrinya tetap di Madinah karena mengandung 'Abdul Muthallib.
Hasyim wafat di Gaza-Palestina, dan istrinya Salma melahirkan puteranya 'Abdul muthallib pada tahun 497 M. Salma memberinya nama Syaibah. Karena terdapat syaibah (uban) di kepalanya. dan dia membesarkannya di rumah ayahnya di Yatsrib. [1]
Hasyim memiliki empat putra dan lima putri:
- Asad
- Abu Saifi
- Nadla
- Abd al-Muthalib
- Al-Shifa
- Khaleda
- Daefa
- Ruqayya
- Jannah.
[1] Sirah Ibnu hisyam juz 1 hal. 137, Rahmatul lil'alamin juz 1 hal 26, juz 2 hal 24.
2. 'Abdul Muthallib
Posisi jabatan memberi minum dan pertolongan kepada jama'ah haji berpindah kepada saudara Hasyim; Al-Muthallib bin 'Abdu Manaf. Beliau merupakan sosok yang terpandang, dipatuhi dan memiliki keistimewaan di kalangan kaumnya. Bani Quraisy menamakannya "Al-Fayyadh" (dermawan) karena sifatnya yang dermawan. Lalu Al-Muthallib berangkat untuk mencari 'Abdul Muthallib. Ketika dia melihatnya, matanya berlinang dan memeluknya, lalu meletakkannya di atas unta. Maka dia menolak sampai ibunya mengizinkannya. Lalu Al-Muthallib meminta izin kepada ibunya untuk mengirimnya bersamanya, lantas ibunya mencegah. Al-Muthallib berkata: "Dia hanya pergi ke kerajaaan ayahnya, dan ke tanah haram", maka ibunya pun memberikan izin. Al-Muthallib membawanya ke Makkah dengan menunggangi unta. Orang-orang pun berkata: "Ini adalah Abdul Muthallib". Lantas Al-Muthallib berkata: "Dia adalah putra saudaraku Hasyim". Abdul Muthallib pun menetap bersamanya hingga besar.
Kemudian Al-Muthallib wafat di Kota Radman-Yaman. Maka kepemimpinan jabatan pun dilanjutkan oleh Abdul Muthallib.
Abdul Muthallib berhasil menerapkan untuk kaumnya apa yang biasa dilakukan oleh nenek moyangnya untuk kaum mereka, memiliki kehormatan di kaumnya yang tak seorang pun dari ayahnya telah mencapainya, kaumnya mencintainya dan termasuk orang yang paling berpengaruh bagi mereka.
Ketika Al-Muttalib meninggal, Naufal mencaplok dan merampas tanah Abdul Muthallib. Dia pun meminta orang-orang Quraisy untuk mendukungnya menghadapi pamannya. Lantas mereka berkata: "Kami tidak akan ikut campur urusan antara Anda dan paman Anda". Jadi dia menulis dan mengirim surat kepada pamannya dari Bani An-Najjar yang berisi bait-bait meminta bantuan mereka. Pamannya Abu Saad bin Uday pun berangkat dengan delapan puluh pasukan kuda, sehingga tibalah dia di Al-Abtah (muara sungai) kota Makkah. Lalu ia menemui Abdul Muthallib. Abdul Muthallib pun berkata: "Mari ke rumah wahai pamanku!" Lantas pamannya menjawab: "Tidak! Demi Allah sehingga aku ketemu Naufal". Lalu ia menemui Naufal dan ia pun berdiri disaat ia sedang duduk-duduk bersama tokoh-tokoh Quraisy. Spontan Abu Sa'ad menghunuskan pedangnya dan berkata: "Demi Rabb Al-Bait, sungguh jika kamu tidak mengembalikan tanah keponakanku kepadanya, akan kutebas kau dengan pedang ini!"
Maka Naufal pun berkata: "Akan ku kembalikan kepadanya". Lalu para tokoh-tokoh tersebut diminta untuk menjadi saksi. Kemudian Abu Sa'ad menemui Abdul Muthallib dan tinggal bersamanya selama tiga hari. Setelah melaksanakan umrah ia pun kembali ke Kota Madinah. Setelah kejadian tersebut, Naufal pun bersekutu dengan Bani Abdu Syam bin Abdu Manaf untuk melawan Bani Hasyim. Setelah melihat hasil dari pertolongan Bani An-Najar untuk Abdul Muthallib, Bani Khuza'ah berkata: "Kami melahirkannya sebagaimana kamu melahirkannya, jadi kami lebih berhak untuk menolongnya". Umm Abdu Manaf termasuk salah satunya. Lalu mereka memasuki Darun Nadwah untuk bersekutu dengan Bani Hasyim dalam melawan Bani Abdu Syam dan Naufal. Aliansi inilah menjadi alasan penaklukan Kota Makkah.
Dua Perkara Dari Peristiwa Penting Yang Terjadi Kepada Abdul Muthallib Mengenai Baitullah
- Menggali sumur Zamzam
- Peristiwa Al-Fiil (tentara gajah)
1. Menggali Sumur Zamzam
Abdul Muthallib di dalam mimpinya diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam dan dijelaskan kepadanya lokasinya. Ia pun bangkit lalu menggali sumur. Di dalam sumur ia menemukan benda-benda pusaka yang dikubur oleh Bani Jurhum (merupakan salah satu marga dalam suku Qahtan kuno di Semenanjung Arabia). Seperti pedang, perisai dan pemintal dari emas. Lalu beliau konsisten memberi minum air Zamzam kepada jama'ah haji.
Ketika Sumur Zamzam muncul, qabilah Quraisy berselisih dengan Abdul Muthallib. Mereka berkata kepadanya: "Libatkan Kami!" Lantas Abdul Muthallib pun menjawab: "Tak akan ku lakukan! Ini adalah urusan yang dikhususkan kepadaku". Mereka tidak meninggalkannya sehingga mereka menuju ke pengadilan bersamanya ke pendeta Bani Sa'ad. Mereka tidak mau pulang sehingga Allah memperlihatkan kepada mereka tanda yang menunjukkan kekhususan Abdul Muthallib terhadap sumur Zamzam. Ketika itu, bernazarlah Abdul Muthallib yang isinya "Sungguh jika Allah menganugerahinya sepuluh anak lelaki kemudian tidak memperoleh anak lagi sesudah mereka besar, salah satu di antaranya akan disembelih untuk dijadikan persembahan".
2. Peristiwa Al-Fiil (Tentara Gajah)
Abrahah Ash-Shabbah Al-Habsyi adalah jaksa agung raja Najasyi (Negus) kota Yaman ketika ia melihat orang-orang Arab pergi haji ke ka'bah, ia membangun gereja yang besar di Sana'a. Ia ingin memalingkan orang Arab untuk pergi haji kesana. Maka perihal tersebut didengar oleh seorang lelaki dari Bani Kinanah. Lalu ia memasuki gereja tersebut pada malam hari lalu melumuri qiblatnya dengan kotoran. Tatkala Abrahah mengetahui peristiwa tersebut berkobarlah kemarahannya.
Maka ia pun mempersiapkan pasukan yang kuat yang berjumlah 60.000 pasukan menuju Kota Makkah untuk menghancurkan ka'bah. Ia memilih gajah terbesar untuk dirinya. Dalam pasukan itu terdapat 9 atau 13 gajah. Ia meneruskan perjalanannya hingga sampai di Maghmas. Disana ia mempersiapkan dan membekalkan gajahnya lalu bersiap untuk memasuki kota Makkah. Manakala ia sampai di lembah Mahsar yang terletak diantara Muzdalifah dan mina, berderumlah gajahnya tidak mau berdiri untuk menghadap ka'bah. Setiap kali mereka mengarahkannya ke arah selatan, utara atau timur ia berdiri tenang. Apabila mereka memalingkannya ke arah ka'bah ia pun berderum kembali. Hal tersebut dipertegas oleh firman Allah
وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ
تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ
Gambaran burung Ababil memiliki kuku tajam dan berbulu permadani. Setiap burung membawa tiga batu. Satu batu di paruhnya dan dua lagi di kakinya sebesar batu kerikil dari neraka. Setiap pasukan yang terkena batu itu anggota badannya akan terputus dan binasa. Tidak semua pasukan kena, namun mereka kabur tunggang-langgang menyikut satu sama lain dan jatuh bangun di sepanjang jalan lalu binasa di penjuru padang pasir.
Adapun Abrahah, Allah menimpakannya suatu penyakit hingga menyebabkan jari-jarinya putus. Belumpun ia sampai ke Sana'a, ia sudah bagaikan anak burung. Lalu dadanya terbelah dan hatinya keluar. Akhirnya ia pun binasa.
Sementara kaum Quraisy, mereka melarikan diri ke lembah bukit dan berlindung di puncak-puncak pergunungan karena takut dirinya kena amukan tentara Al-Fiil. Ketika tentara telah kembali, mereka kembali ke rumah mereka dengan selamat.
Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tepat 50 atau 55 hari sebelum hari kelahiran Nabi Muhammad SAW menurut mayoritas pendapat ulama. Bertepatan akhir-akhir bulan Februari atau awal bulan Maret tahun 571 M.
Itulah persembahan yang diberikan oleh Allah untuk Nabi-Nya dan rumah-Nya. Karena ketika kita melihat kepada Baitul Maqdis, kita melihat bahwa kaum musyrikin musuh-musuh Allah menguasai qiblat ini sementara penduduknya beragama islam. Seperti yang terjadi pada Bakhtansir pada tahun 587 SM. Romawi pada tahun 70 M. Akan tetapi, ka'bah tidak pernah dikuasai oleh kristen Nasrani. Pada saat itu mereka adalah muslim meskipun mereka orang-orang yang musyrik.
Berita insiden ini tersebar ke sebagian besar penjuru peradaban dunia saat itu. Habsyah (kini Ethiopia) memiliki hubungan erat dengan Romawi. Sementara Persia senantiasa mengintai mereka, menunggu apa yang terjadi pada Romawi dan seskutu mereka. Oleh karena itu, Persia segera datang ke Yaman setelah kejadian ini. Dua negara ini mewakili peradaban dunia.
Kejadian ini menarik perhatian ulama dan menunjukkan atas kehormatan Rumah Allah. Nabi Muhammad merupakan orang pilihan yang dipilih oleh-Nya untuk mensucikan. Itula tafsir terhadap hikmah yang tersembunyi yang terdapat dalam pertolongan Allah dari orang-orang musyrik terhadap orang-orang beriman dengan cara melampaui alam asbab.
Abdul Muthallib memiliki 10 putra:
- Harist
- Zubair
- Abu Thalib
- Abdullah
- Hamzah
- Abu Lahab
- Ghaidaq
- Muqawwam
- Shaffar
- Abbas
Dikatakan juga jumlahnya adalah sebelas. Mereka menambahkan satu orang yang bernama Qutsum. Ada juga pendapat 13 orang. Mereka menambahkan Abdul Ka'bah dan Hajlan. Dikatakan juga bahwa Abdul Ka'bah adalah Muqawwam, Hajlan adalah Ghaidaq. Dan tidak ada satu pun dari putranya yang bernama Qutsum.
Abdul Muthhallib memiliki 6 putri:
- Ummul Hakim (Baidha')
- Burrah
- 'Atikah
- Shafiyyah
- Urwa
- Amimah [2]
[2] Kitab Talqih Fuhum Ahlil Atsr hal 8 dan 9, Kitab Rahmatul lil'alamin juz 2 hal 56 dan 66.
3. Abdullah
Abdullah adalah ayah Rasulullah SAW. Ibu Abdullah bernama Fatimah binti 'Amru bin 'Aidz bin 'Imran bin Makhzum bin Yaqdlah bin Murrah. Abdullah merupakan anak yang paling elok rupa dari sekalian putra Abdul Muthallib. Orang yang paling mereka jaga dan cintai. Ia merupakan anak yang akan disembelih untuk persembahan. Hal tersebubt dikarenakan isi nazar Abdul muthallib saat berseteru dengan Bani Quraisy mengenai kepengurusan sumur Zamzam. yang isinya: "Sungguh jika Allah menganugerahinya sepuluh anak lelaki kemudian tidak memperoleh anak lagi sesudah mereka besar, salah satu di antaranya akan disembelih untuk dijadikan persembahan".
Apa yang menjadi keinginan Abdul Muthalib dikabulkan. Dia memperoleh sepuluh anak dan setelah itu tak punya anak lagi. Ia tahu bahwa mereka akan mencegahnya. Lalu ia pun memberitahukan kepada mereka nazarnya dan mereka pun mematuhinya. Dia memanggil semua anak lelakinya demi meluluskan nazarnya. Setiap anak lelaki menuliskan namanya di atas qidh (anak panah). Semua anak panah diambil oleh Abdul Muthalib dan dibawa kepada juru qidh di tempat berhala Hubal yang berdiri di tengah Ka'bah.
Juru qidh kemudian mengocok anak panah itu. Nama yang keluar akan disembelih untuk dijadikan persembahan bagi Hubal. Tak disangka, nama Abdullah keluar. Dia lantas membawa anak muda itu untuk disembelih di dekat sumur Zamzam. Namun, orang Quraisy tanpa terkecuali juga paman-paman dari pihak ibunya dari Bani Makhzum, saudaranya Abdullah (Abu Thalib) ketika itu serentak melarangnya untuk berbuat demikian. Lalu Abdul Muthallib pun berkat: "Maka apa yang harus ku lakukan terhadap nazarku?"
Mereka pun menyarankannya untuk mendatangi seorang paranormal wanita untuk meminta solusinya. Lalu ia pun menjumpainya. Lalu wanita itu memerintahkan untuk mengundi anak panah yang keluar nama Abdullah maka ditebus sepuluh ekor unta. Maka jika undiannya tetap keluar nama Abdullah, unta terus ditambah sepuluh hingga Tuhannya ridha. Maka jika sudah keluar nama undian unta, ia akan menyembelih unta. Undian jatuh pada Abdullah, dan dia terus meningkatkan jumlah unta sepuluh, dan undian tidak jatuh kecuali padanya, sampai unta mencapai seratus. Maka akhirnya keluarlah undian unta. Maka disembelihlah 100 unta itu sebagai gantinya. Kemudian Abdul Muthallib meninggalkannya tidak membaginya ke orang-orang dan juga binatang buas.
Konon, diyat (denda pembunuhan) yang berlaku di kalangan bangsa Quraisy dan Arab adalah sepuluh unta. Maka setelah peristiwa ini, berlakulah hukum diyat seratus ekor unta dan juga telah ditetapkan dalam islam.
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi SAW, di dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam juz 1 hal 151 bahwa beliau bersabda:
انا ابن الذبيهين
“Saya putra dua manusia yang akan disembelih.” Yakni Isma'il dan ayahnya Abdullah.
Abdul Muthallib meminangkan Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zahra bin Kilab untuk putranya Abdullah. Aminah pada waktu itu dianggap sebagai wanita terbaik di Quraisy, dari segi garis keturunan dan kedudukan. Ayahnya merupakan penguasa Bani Zahra, dari segi garis keturunan dan kehormatan. Abdullah pun membangu rumah tangga bersamanya di Kota Makkah.
Tak lama berselang, Abdul Muthallib mengirimnya ke Madinah untuk memanen kurma untuk mereka. Lalu ia pun wafat disana. Ada pendapat yang mengatakan akan tetapi ia berangkat berdagang ke Syam. Ia datang ke kafilah (rombongan) Quraisy, lalu ia sakit dan menetap di Madinah dan wafat disana. Abdullah dimakamkan di Darun Nabighah Al-Ja'di. Pada ketika itu, umurnya masih 25 tahun. Abdullah wafat sebelum lahirnya Nabi menurut pendapat kebanyakan ahli sejarah. Namun ada yang berpendapat bahwa ia wafat dua bulan setelah lahirnya Nabi.
Manakala sampai berita wafatnya Abdullah ke Kota Makkah, Aminah meratap dengan kata-kata yang indah:
عفا جانب البطحاء من ابن هاشم ... وجاور لحدا خارجا في الغماغم
دعته المنايا دعوة فأجابها ... وما تركت في الناس مثل ابن هاشم
عشية راحوا يحملون سريره ... تعاوره أصحابه في التزاحم
فإن تك غالته المنايا وريبها ... فقد كان معطاء كثير التراحم
Berdampingan liang lahadnya di tempat yang jauh di sana
Kematian telah memanggilnya, dan dia penuhi panggilan tersebut
Tidaklah kematian meninggalkan seorang manusia pun seperti putra Hasyim ini
Di sore hari mereka pergi memikul kerandanya
Kerabat-kerabatnya saling berdesakan untuk mengantarnya
Kalau memang akhir dari kehidupannya adalah kematian
Maka sungguh dia adalah orang yang dermawan dan penuh kasih sayang [3]
[3] Thabaqat Ibnu Sa'ad juz 1 hal 62.
Harta peninggalan Abdullah hanyalah lima ekor unta, seekor domba dan seorang gadis budak Habsyiyyah yang bernama Baraka, nama panggilannya adalah Umm Ayman, dan dia adalah penjaga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. [4]
[4] Mukhtasar Sirah Rasul Karya Syeikh Abdullah An-Najdi hal 12, Talqih Fuhm Ahlil Atsr hal 4, Shahih Muslim Juz 2 hal 96.

0 Komentar