Makam Abu Matang Keh - Tgk. Syeikh H. Hanafi Syubramah yang sering dikenal Abu Matang Keh lahir pada tahun 1925. Beliau juga merupakan ulama sesepuh murid tertua dari Almarhum Abuya Syeikh H. Tgk Muhammad Waly Al-Khalidy (Abuya Muda Waly) Labuhan Haji.
Beliau wafat pada hari Jumat (10/1/2020) sekira pukul 02.18 WIB dini hari di Rumah Sakit Umum (RSU) Cut Mutia Lhokseumawe di usia 95 tahun.
Alhamdulillah kami berkesempatan singgah ke Dayah Nurussalam, Desa Rayek Pange, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara untuk berziarah ke makam Abu Matang Keh.
Abu Matang Keh adalah ayahanda dari Abu Sirajuddin Hanafi (Waled Sirajuddin), Ketua Tastafi Aceh Utara, yang juga pimpinan Dayah Babussalam Al-Hanafiyyah Matang Kuli.
Pada tahun 1950 s.d 1954, Abu Matang Keh pertama kali menimba ilmu di Geudong pada Abu Hasanji selama 4 tahun. Di Dayah Abu Hasanji Geudong, Abu Matang Keh telah mendalami berbagai cabang keilmuan. Mulai dari tafsir, hadits, nahwu, saraf, tauhid, ilmu akhlak dan ilmu-ilmu lainnya.
Pada tahun 1954 s.d 1961, beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Dayah Darussalam Al-Waliyyah Labuhan Haji. Setelah menikah dengan istri beliau Khadijah, menurut riwayat dikatakan bahwa Abu Matang Keh kembali lagi ke Darussalam. Namun tidak tahu berapa lamanya.
Baca Juga: Makam Abu Karimuddin (Abu Alue Bilie) Aceh Utara
Almarhum Abu Abdullah Hanafi (Abu Tanoh Mirah) merupakan guru beliau di jadwal ngaji malam kitab Al-Mahalli. Lalu guru ngaji siang beliau adalah Abu Syihabuddin Syah (Abu Keumala Medan) bidang tafsir dan tauhid.
Sementara jadwal ngaji pagi, Abu Matang Keh dan seluruh dewan guru belajar langsung kepada Abuya Muda Waly Al-Khalidy di Bustanul Muhaqqiqin kajian kitab Tuhfah.
Abu Matang Keh di Darussalam seangkatan dengan Alm. Abu Matang Perlak, Alm. Abu Tu Min Blang Blahdeh yang baru-baru ini berpulang ke rahmatullah.
Abu Matang Keh merupakan seorang ulama yang sangat menguasai ilmu ushul fiqh. Tentu pastinya kealiman beliau di bidang ushul fiqh beliau terima dari Alm. Abu Tanoh Mirah yang juga sangat ahli di bidang tersebut.
Bila kita melihat semua ulama lulusan Dayah Darussalam Labuhan haji, mereka mempunyai kelebihan masing-masing. Seperti Abu Keumalanga yang ahli dalam bidang ilmu tauhid, Abon Aziz Samalanga dalam bidang mantiq, dan juga beberapa ulama-ulama lainnya.
Dengan berkat bimbingan Abuya Muda Waly Al-Khalidy dan guru-gurunya, akhirnya beliau menjadi ulama yang sangat berpengaruh di Aceh Utara dan sekitarnya.
Masa kedatangan Abu Keumala termasuk periode awal. Kemungkinan besar beliau satu periode dengan Syeikh Aidarus Riau, Abu Syeikh Marhaban Krueng Kalee, Abu Syeikh Imam Syamsuddin dan lain-lain.
Periode selanjutnya merupakan periode Abu Tanoh Mirah, Abon Abdul Aziz Samalanga, Abuya Prof. Muhibbuddin Waly.
Kebanyakan murid-murid Abuya Muda Waly yang belajar di kelas Bustanul Muhaqqiqin mereka telah pernah belajar lama di dayah lainnya sehingga memiliki ilmu yang memadai untuk masuk di kelas Bustanul Muhaqqiqin yang diistilahkan dengan kelas "Doktor".
Abu Matang Keh merupakan seorang ulama besar yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan bahasa yang sejuk, selaras dan ilmiyah disertai hujjah-hujjah yang kokoh dan tegas dalam hal-hal prinsipil.
Beliau tidak segan-segan mengkritik hal-hal yang tidak bersesuaian dengan kerangka keilmuan yang benar sesuai dengan pemahaman ahlussunnah wal jamaah.
Dalam usia yang telah dilaluinya, Abu Matang Keh telah berhasil berkiprah sebagai ulama sejati yang mengayomi masyarakatnya dengan fatwa-fatwa yang bertanggung jawab. Mencerdaskan umat dengan ilmu-ilmu yang jelas referensinya serta tetap menjaga kesantunan dan mengedepankan keluhuran budi.
Berangkat dari Dayah Nurussalam, kami menuju ke rumah Waled Sirajuddin di pesantren Babussalam Al-Hanafiyah Gampong Blang Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Nama pesantren ini diberikan nama langsung oleh Abu Keumala.
Nantikan kelanjutan blog kami selanjutnya ziarah ke makam Abu Batee Lee.











0 Komentar