البقاء لله...
‏انتقل إلى رحمة الله سماحة الإمام يوسف القرضاوي الذي وهب حياته مبينا لأحكام الإسلام، ومدافعا عن أمته.. نسأل الله أن يرفع درجاته في عليين، وأن يلحقه بالنبيين والصديقين والشهداء والصالحين.. وحسن أولئك رفيقا. وأن يجعل ما أصابه من مرض وأذى رفعا لدرجاته.. اللهم آمين
انا لله وانا اليه راجعون...

Syeikh Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah seorang cendekiawan Muslim yang berasal dari Mesir. Ia dikenal sebagai seorang Mujtahid pada era modern ini. Selain sebagai seorang Mujtahid, ia juga dipercaya sebagai seorang ketua majelis fatwa.

Kelahiran: 9 September 1926 (2 Rabiul Awal 1345 H), Saft Turab, Mesir
Wafat: 26 September 2022 (1 Rabiul Awal 1444 H)
Pendidikan: Universitas Al-Azhar (1944–1958)
Tokoh Panutan: Ḥasan Bannā, Muhammad Al-Ghazali, Abul A'la Maududi, dan lainnya.

Penghargaan:
    • Al Owais Award (1999)
    • King Faisal International Prize in Islamic Studies (1994)
    • Dubai International Holy Quran Award (annual award for Quran memorization sponsored by the government of Dubai)
Anak: Syeikh Yusuf Al-Qardhawi memiliki tujuh anak; Empat putri dan tiga putra
Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta Sungai Nil, pada usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur'an. Menamatkan pendidikan di Ma'had Thantha dan Ma'had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru ia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi "Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan", yang kemudian disempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat komprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.
Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Seiring dengan perkembangan akademis Yusuf Qardhawi perhatiannya terhadap kondisi umat Islam juga meningkat pesat. Berdirinya Negara Israel, cukup memperhatikannya. Ditambah kondisi Mesir pada saat itu yang semakin memburuk. Dalam kondisi tersebut, Yusuf Al- Qardhawi sering mendengar pidato Imam Hasan al-Bana yang memukau dirinya dari sisi penyampainya, kekuatan hujjah, keluasan cakrawala serta semangat yang membara, kian lama perasaan yang menumpuk itu menjadi kristal semangat menggejolak dengan pertemuan rutin yang amat mengesankan, tidak heran bila beliau pernah berkomentar antara lain: “Tokoh ulama yang paling banyak mempengaruhi saya adalah Hasan al-Bana, pemimpin gerakkan Ikhwanul Muslimin yang sering saya ikuti ceramahnya.

Perkenalan Yusuf al-Qardhawi dengan Hasan al-Bana lebih jauh membawanya aktif dalam jama’ah Ikhwanul Muslimin. Berbagai aktifitas diikutinya antara lain pengkajian Tafsir dan Hadis serta ilmu-ilmu lainnya, tarbiyah, dan ibadah ruhiyyah, olahraga, kepanduan, ekonomi, yayasan sosial penyantun anak yatim, pengajaran tulis baca kepada masyarakat miskin dan kegiatan jihad melawan Israel. Aktifis Ikhwanul Muslimin terlibat dalam perang melawan Israel pada tahun 1948, beliau termasuk salah seorang diantaranya. Dan ketika banyak aktifis Ikhwanul Muslim ditangkap tanpa jelas Yusuf Qardhawi termasuk pula didalamnya. Namun itu semua tidak memudarkan semangat dan gairah Yusuf al-Qardhawi untuk berbuat sesuatu untuk umat yang tengah terbelenggu pemikiran jahiliyah. Setelah keluar dari penjara beliau terus bekerja dan melanjutkan studinya yang terbengkalai karena situasi Mesir yang kritis[1].

Dalam perjalanan hidupnya, beliau pernah mengenyam "pendidikan" penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.




GURU-GURU SYEIKH Dr. YUSUF AL-QARDAWY

1. Syeikh Yamani Murad
Pada waktu masih kecil, karena dorongan dan ajakan salah seorang saudaranya untuk pertama kalinya Yusuf al-Qardhawi belajar dengan Syaikh Yamani Murad yang dipanggil dengan sebutan kuttab. Akan tetapi, beliau hanya bertahan satu hari bersama Syaikh Yamani dan setelah itu beliau tidak mau lagi belajar dengan Syaikh Yamani. Hal tersebut disebabkan karena cara mengajar yang dilakukannya. Untuk membuat para murid lebih giat, Syaikh Yamani sering menghukum murid-muridnya seperti beliau.

Allah menganugerahi beliau dengan memberikan perasaan yang tidak dapat menerima sebuah kezhaliman, sekecil apapun kezhaliman tersebut mulai saat itu beliau tidak suka berbuat zhalim dan tidak suka dizhalimi. Beliau juga mengetahui bahwa Rasulullah SAW meminta perlindungan kepada Allah SWT agar tidak berbuat zhalim dan tidak dizhalimi, tidak membodohi dan tidak dibodohi.[2]

2. Syeikh Hamid

Oleh karena kezhaliman yang menimpa beliau tersebut telah menyebabkan beliau memutuskan untuk tidak datang lagi kepada syeikh manapun dalam rangka belajar al-Qur’an. Hal ini berlangsung beberapa lama. Sampai akhirnya ibunda ( Rahimahallah) beliau menyuruh untuk belajar kepada Syeikh Hamid. Pada saat menitipkan kami, ibu berkata, “Syeikh, anak ini adalah amanah untuk mu.” Syeikh Hamid menjawab, “ Dia adalah anakku (juga) dan dia akan selalu aku awasi.”
Aktivitas yang beliau lakukan dirumah seorang kuttab adalah menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat yang akan beliau hapal beliau tulis diatas sabak yang dibahasi dengan minyak, sehingga layak ditulis dengan tinta.
Beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dalam usia sembilan tahun lebih beberapa bulan. Beliau menjadi murid termuda dikampung yang sudah hapal Al-Qur’an dengan waktu lebih dari satu tahun dikarenakan beliau diajak berdagang oleh pamannya selama sepuluh bulan. Seandainya saat menghapal al-Qur’an

beliau tidak pernah menghilang dari Syeikh Hamid, barangkali beliau berhasil menghapalnya kurang dari satu tahun. Namun semuanya sudah dalam ketentuan Allah SWT. Semenjak saat itu masyarakat menjuluki beliau dengan julukan “Syeikh” sehingga beliau dengan nama Syeikh Yusuf yang hafal Al-Qur’an.

3. Syeikh Abdullah Yazid

Saat memasuki usia tujuh tahun, beliau dimasukkan ke sekolah dasar milik pemerintah yang ada dikampung beliau yang merupakan cabang dari provinsi Al-Gharbiyyah. Salah seorang guru yang mengajar disekolah tersebut adalah tetangga beliau, yaitu Syaikh Abdullah Yazid, beliau mengajari Yusuf Al-Qardhawi dan anak-anak lainnya tentang perkalian.

4. Syeikh Ali Sulaiman Khalil

Guru yang mengajari beliau pada semester pertama adalah Syaikh Ali Sulaiman Khalil. Saat itu beliau mendapat julukan “Biran ji Al-Fash” yang artinya kelas yang paling pertama. Akar kata tersebut adalah diambil dari kata Bir yang artinya nomor satu dan kata Biranji adalah orang yang meraih nomor satu.

5. Ustad Sa'id Sulaiman Tsabit

Bersama Ustad Sa’id Sulaiman Tsabit beliau diajarkan mata pelajar sejarah, geografi dan ilmu keterampilan seperti ilmu kesehatan, khat, mengarang, dan mahfuzat.

6. Syeikh Muhammad Sya'at

Beliau merupakan Nafwu Yusuf al-Qardhawi, beliau memanggil Yusuf Al-Qardhawi dengan sebutan “Ya Allamah” yang artinya wahai anak yang serba tahu.

7. Syeikh Al-Bahi Al-Khuli

Pada tahun kedua Ibtidiyah beliau di ajari dengan mata pelajaran Mahfuzat oleh Syeikh Al-Bahi Al-Khuli. Sang guru mengharuskan beliau untuk menghapal karya sastra Al-Manfaluti yang diambil dari bagian kitab An-Nadzarat bagian judul Ar-Rahmah (kasih sayang).

Beliau juga sering mengunjunginya di rumah lamanya di jalan Al-Mathariyah sebelum Syeikh Bahi Al-Khuli pindah ke jalan Qashar Al-Aini.

8. Syeikh Muhammad Al-Ghubarah

Pada tahun ketiga Ibtidaiyah beliau mengajar ilmu sharaf yang merupakan saudara kandung ilmu nahwu. Ustadz yang mengajari beliau adalah orang alim yang beliau cintai. Ia mengajar dengan metode yang sangat baik dan mudah dipahami. Guru tersebut adalah Syeikh Muhammad Al-Ghubarah.

9. Syeikh Muhammad Asy Syanawi

Syeikh Muhammad Asya-Syanawi berasal dari daerah Mahallah Ruh, yang letaknya bersebelahan dengan kampong beliau, bersama Syaikh Muhammad Asy-Syanawi, Yusuf Al-Qardhawi belajar ilmu fikih yang bermazhab Hanafi.

10. Syaikh Mahmad Ad-Diftar

Seorang guru yang juga mengajari beliau fikih mazhab Hanafi adalah Syeikh Mahmad Ad-Diftar. Meskipun beliau tidak dapat melihat tetapi beliau adalah seorang guru yang mendalami bidangnya. Beliau adalah salah seorang keturunan keluarga besar Ad-Diftar yang sangat terkenal sebagai pengikut mazhab Hanafi dan sangat menghormati mazhabnya. Bersama Syaikh ini beliau termasuk siswa yang banyak protes dari banyak pertanyaan yang terkadang juga sering membuat Syaikh Muhammad Ad-Diftar marah.

11. Syeikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi

Salah seorang guru beliau yang tidak kalah penting adalah Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Syaikh tersebut merupakan guru sastra beliau pada tingkat Tsanawiyah.

12. Syeikh Muhammad Mukhtar Badir

Beliau adalah dosen tafsir Yusuf Al-Qardhawi pada tingkat pertama di Al-Azhar. Ia adalah seorang ulama yang sangat menguasai ilmu qira’ah, seorang pujangga sastrawan.

13. Syeikh Muhammad Amin Abu Ar-Raus

Beliau juga seorang dosen Yusuf al-Qardhawi pada bidang mata kuliah tafsir.

14. Syeikh Muhammad Ahmadain dan Abdul Hamid Asy-Syadzili

Mereka adalah dua orang ulama ahli hadist sekaligus dosen yang mengajar Yusuf Al-Qardhawi.

15. Syeikh Shalih Syaraf

16. Syeikh Abdul Fattah

17. Syeikh Abu Bakar Dzikri

18. Syeikh Mansur Rajab

19. Dr. Muhammad Ghallab

20. Dr. Abdul Halim

21. Syaikh Thayyib

22. Dr. Jamaluddin mengajar psikologi

23. Syeikh Al-Gharabbi

24. Syeikh Muhammad Al-Ghazali

Syaikh Muhammad Al-Ghazali merupakan guru Yusuf al-Qardhawi dari kalangan Ikhwanul Muslimin. Beliau sangat sering mengunjung rumahnya di Darb As-Sa’adah bersama Assal dan Damardasy (sahabat Yusuf al-Qardhawi), tepatnya sebelum beliau pindah ke jalan Al-Azhar, lalu pindah lagi ke Doqqi, 32 Syaikh Muhammad Al-Ghazali juga merupakan guru beliau ketika berada di penjara Thur.

25. Syeikh Hasan Al-Bana

Beliau dengan Syeikh Al-Bana memang tidak bisa berjumpa dikarenakan Syaikh Al-Bana tinggal di Kairo sedangkan beliau tinggal di Thantha kecuali jika beliau ke Kairo atau Syaikh Al-Bana keThanta.

26. Syeikh Sayyid Sabiq

Beliau sering mengunjunginya dirumah lamanya yang terletak di Suq As-Silah, sebelum Syeikh Sayyid Sabiq pindah ke Garden City.

27. Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Abdul Wahhab Khalaf, Ustad Abdul Wahhab Hamudah dan seorang lagi yang beliau lupa namanya. Mereka juga termasuk diantara guru kajian tafsir beliau pada saat itu.


KITAB-KITAB KARYA PENINGGALAN SYEIKH Dr. YUSUF AL-QARDAWY

Bidang Fikih (Ushul Fiqh)
  1. Al-Halal wa al-Haram fil Islam (Halal dan Haram dalam Islam)
  2. Fatawa Mu'ashirah (Fatwa-Fatwa Semasa) (3 juz)
  3. Taysir al-Fiqh: Fiqh Shiyam (Hukum tentang Puasa)
  4. Fiqh at-Tharah (Hukum tentang Kebersihan)
  5. Fiqh al-Ghina' wa al-Musiqa (Hukum tentang Nyanyian & Musik)
  6. Fiqh al-Aqaliyyat al-Muslimah (Fiqh minoritas Muslim)
  7. Al-Ijtihad fi Syari'ah al-Islamiyah (Ijtihad dalam Syariat Islam)
  8. Madhkal Li Dirasat al-Syariah al-Islamiyyah (Pengenalan Pengajian Syariat Islam)
  9. Min Fiqh-Daulah al-Islam (Fikih Kenegaraan)
  10. Fatawa bayn al-Indibat wa at-Tasayyub (Fatwa-fatwa antara Kejituan dan Pencerobohan)
  11. Fiqh al-Islami bayn al-Asalah wa al-Tajdid (Fikih Islam antara Ketulenan dan Pembaharuan)
  12. Ijtihad al-Mu’asir bayn al-Indibat wa al-Infirat (Ijtihad Semasa antara Kejituan dan Kecualian)
Ekonomi Islam
  1. Fiqh al-Zakat (Hukum tentang Zakat) (2 juz)
  2. Mushkilat al-Faqr wa kayfa Alajaha al-Islam (Masalah Kefakiran dan bagaimana Islam mengatasinya)
  3. Bay’u al-Murabahah li al-Amri bi al-Shira (Sistem Jual Beli al-Murabah)
  4. Dur al-Zakat fi alaj al-Musykilat al-Iqtisadiyyah (Peranan Zakat dalam Mengatasi Masalah Ekonomi)
  5. Dawr al-Qiyam wa al-Akhlaq fi al-Iqtisad al-Islami (Peranan Nilai dan Akhlak dalam Ekonomi Islam)
  6. Fawa’id al-Bunuk Hiya ar-Riba al-Haram
Qur'an & as-Sunnah
  1. Al-Aql wa al-Ilm fi al-Quran (Akal dan Ilmu dalam al-Quran)
  2. Kayfa Nata’amal ma’al Quran (Bagaimana berinteraksi dengan al-Quran)
  3. al-Sabru fi al-Quran (Sabar dalam al-Quran)
  4. Tafsir Surah al-Ra’d (Tafsir Surat ar-Ra’du)
  5. Kayfa Nata’amal ma’al as-Sunnah al-Nabawiyyah (Bagaimana berinteraksi dengan Sunnah Nabi)
  6. Madkhal li Dirasat as-Sunnah (Pengantar Mempelajari Sunnah)
  7. Al-Muntaqa min at-Taghib wa at-Tarhib (Hadits-hadits Terpilih mengenai Berita Gembira dan Peringatan)
  8. Al-Sunnah Masdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadarah (Sunnah sebagai Sumber Pengetahuan dan Tamadun)
Aqidah Islam & Akhlak
  1. Wujud Allah (Adanya Allah)
  2. Haqiqat al-Tawhid (Hakikat Tauhid)
  3. Iman bi Qadr (Keimanan kepada Qadar)
  4. Mawqif al-Islam min al-Ilham wa al-Kasyfh wa al-Ru’a wa Min al-Kananah wa al-Tarna’im wa al-Ruqa ( Posisi Islam mengenai Ilham,Kasyaf, Mimpi, Ramalan, Pencegah kemalangan, dan Jampi)
  5. Al-Hayat al-Rabbaniah wa al-‘Ilm (Kehidupan Rabbani dan Ilmu)
  6. At-Tawakkal (Bertawakal kepada Allah)
  7. At-Tawbah ila Allah (Taubat kepada Allah)
  8. Al-Niyat wa al-Ikhlas (Niat dan Keikhlasan)
Pendidikan & Dakwah (Tarbiyyah & Da'wah)
  1. Al-Rasul wa al-Ilmi (Rasul dan Ilmu)
  2. Al-Waqt fi Hayat al-Muslim (Waktu dalam kehidupan seorang Muslim)
  3. Thaqafat al-Da’iyyah (Wawasan seorang Juru Dakwah)
  4. Al-Tarbiah al-Islamiah wa Madrasah Hassan al-Banna (Pendidikan Islam dan Ajaran Hassan al-Banna)
  5. Al-Ikhwan al-Muslimun sab’in Amman fi al-Da’wah wa al-Tarbiyyah (Ikhwan al-Muslimun selama 70 tahun dalam dakwah dan Pendidikan)
Karangan Lain
  1. Al-Thaqafah al-Islamiyyah bayn al-Asalah wa al-Mu’asarah (Pengetahuan Islam antara Ketulenan dan Pembaharuan)
  2. Syumul al-Islam (Kesempurnaan Islam)
  3. Nahw Fiqh Muyassar Mu’asirah
  4. Al-Iman wa al-Hayat (Iman dan Kehidupan)
  5. Al-Ibadat fi al-Islam (Ibadah dalam Islam)
  6. Al-Khasas’is al-Ammah li al-Islam (Keistimewaan Agama Islam)
  7. Madkhal li Ma’rifah al-Islam (Pengantar Mengenali Agama Islam)
  8. Al-Nass wa al-Haq (Manusia dan Kebenaran)
  9. Al-Din fi ‘Asr al-‘Ilm (Agama dalam dunia Ilmu Pengetahuan)
  10. Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah (Fatwa-fatwa tentang wanita Muslimah)
  11. Fiqh al-Awlawiyyat (Fikih Memahami Keutamaan-keutamaan)
  12. Al-Islam wa al-Fann (Islam dan Kesenian)
  13. Kayfa Nata’amal ma’a al-Turath (Bagaimana Berinteraksi dengan Buku-buku Klasik)
  14. Ri’ayah al-bai’ah fi Syari’at al-Islam (Memelihara Alam Sekitar menurut Syariat Islam)
  15. Khatab al-Shaykh Al-Qaradawi (Khutbah Syeikh al-Qaradawi) (5 jilid), dsb.

Dan kini beliau telah wafat. Semoga Allah mengampuni dan merahmati beliau. Semoga karya-karya beliau menjadi amal jariah. Allah muliakan tempat tinggal barunya, Allah luaskan jalan masuknya, Allah cuci beliau dengan air yang jernih lagi sejuk, Allah bersihkan dari segala kesalahan, bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan Allah ganti rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya. Semoga Allah masukkan beliau ke dalam Surga, dan Allah lindungi dari siksanya kubur serta fitnahnya, juga dari siksa api neraka. Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin..

[1] Yusuf Al-Qardhawi, Halal wa Haram fil Islam, alih bahasa oleh Mu’ammal Hamidi, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1996), Cet-Ke-1, h.45.
[2] Ibid.