Pesawat terbang pertama kali ditemukan pada tahun 1903 yang sangat berpengaruh dalam dunia transportasi modern untuk mempermudah akses perjalanan ke suatu daerah yang jauh. Jika pada zaman kini kita ingin pergi ke Maroko, tentunya tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan. Sekarang coba kita bayangkan bila kita hidup di zaman era abad ke-14. Di zaman kuda, onta dan kapal perairan yang menjadi sarana transportasi antar negara kala itu. Tentu kita akan lebih memilih menetap di daerah masing-masing dan malas untuk melakukan travelling. Akan tetapi berbeda halnya dengan sosok penjelajah muslim ini yang berasal dari negeri Maroko yaitu Ibnu Batutah. Berikut kisah perjalanan beliau dan catatan rihlah beliau yang pernah singgah ke kerajaan Samudera Pasai (Aceh) bahkan sampai ke Cina pada abad ke-14.

“Sultan Samudra Pasai, Al Malik az Zahir adalah penguasa yang paling hebat dan terbuka, juga pecinta ulama. Meskipun Baginda tidak henti-hentinya berperang dan merayah demi agama, ia adalah seorang yang rendah hati, yang selalu berjalan kaki pergi ke masjid untuk salat Jumat. Pada hari ke-4 (saya berada di Samudra) yaitu hari Jumat, Amir Dawlasa datang kepada saya dan berkata “Tuan dapat memberi penghormatan kepada Sultan di serambi kerajaan di masjid sehabis salat”. Setelah salat saya menemui Sultan Baginda; menjabat tangan saya dan saya memberi hormat kepadanya; setelah itu Baginda menyuruh saya duduk di sebelah kirinya, dan ia pun bertanya tentang Sultan Muhammad dan tentang perjalanan saya. Baginda tetap berada di masjid sampai selesai salat ashar, kemudian baginda pindah ke sebuah bilik, membuka baju yang dipakai (yaitu jubah yang biasa dipakai oleh para ulama dan selalu dipakai Sultan setiap kali baginda datang ke masjid untuk salat Jumat) dan mengenakan jubah kebesarannya yaitu mantel dari sutra dan katun. Sewaktu ia meninggalkan masjid, gajah dan kuda telah menanti di pintu gerbang. Adat kebiasaan mereka ialah kalau Sultan naik gajah, maka para pendampingnya naik kuda atau sebaliknya. Pada waktu itu Baginda naik gajah, maka kami pun menunggang kuda dan pergi dengan baginda ke majelis persidangan”.

Menurut Ibnu Battuta, ia berada di kesultanan samudra ini selama dua Minggu. Tetapi, dengan mempelajari kisah pelayarannya dapat diperkirakan bahwa ia berada di sana lebih lama. Kemudian ia melanjutkan pelayaran, menyusuri pantai Sumatera untuk meneruskan perjalanan ke Cina. Ia singgah di Mul-Jawa yang masyarakatnya masih kufur. Dalam perjalanan kembali dari Cina, ia singgah lagi di Samudra. Ketika itu, menurut Ibnu Battuta, Sultan baru saja pulang berperang dan membawa banyak tawanan perang. Sang pelancong pun berkesempatan pula menghadiri pesta perkawinan putra Sultan dengan Putri saudaranya.

Jika kesaksian Marcopolo, yang datang pada tahun 1293, menemukan kesesuaian dengan inskripsi dan teknologi pada makam Sultan Malikul Saleh dan diperkuat pula oleh tradisi lokal sebagaimana dikisahkan dalam hikayat raja-raja pasai, menunjukkan secara pasti tentang telah berdirinya sebuah pusat kekuasaan Islam di akhir abad ke-13 (jadi seusia dengan kerajaan Majapahit di ujung timur pulau Jawa), maka kesaksian Ibnu batutah menunjukkan hubungan dagang antara Samudra (Sumatera) dengan India dan suasana kehidupan intelektual di istana. Ibnu Battuta telah mengenal Sumatera sejak masih berada di Calicut (India). Dalam kisah perjalanannya ia bercerita tentang hilir mudiknya pedagang dari Sumatera ke kota dagang itu. Ia pun bercerita tentang kedongkolannya karena dua orang budak perempuannya, menurut berita yang disampaikan kepadanya, telah diambil oleh Sultan samudera. Ia memang tidak bisa membuktikan kebenaran berita itu. Yang jelas ketika Ibnu Battuta berkunjung ke kerajaan tersebut pada tahun 1345 dan akhir tahun 1346, ia merasa telah cukup mengenal Samudra. Pengetahuan yang didapatkannya di Benggala rupanya telah cukup memadai.

Dalam kenangannya tentang kunjungannya itu ia pun bercerita tentang sultan yang ingin memperluas wilayah kekuasaan Islam -- perang demi keyakinan agama katanya -- dan yang selalu ingin berdiskusi tentang masalah keagamaan dengan para ulama. Dalam versi yang lengkap dari kisah perjalanannya, Ibnu Battuta menceritakan tentang para ulama yang berdatangan dari berbagai negeri Islam, terutama dari Persia. Dalam kisahnya itu tampak pula kecenderungan Kosmopolitan sang raja. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sultan kepada Ibnu Battuta ketika mereka bertemu, dengan jelas memperlihatkan betapa luasnya cakrawala perhatian Sang penguasa dari kerajaan Islam tertua di nusantara itu.


Pada salah satu inskripsi yang ternukil pada batu nisan di kompleks pemakaman raja-raja samudra pasai, yang ditulis dalam bahasa Arab, dikatakan bahwa “Kubur ini kepunyaan tuan yang mulia Sultan Malik az Zahir, cahaya dunia dan sinar agama Muhammad bin Malik Al Saleh, yang wafat pada malam Ahad 12 bulan Dzulhijjah tahun 726”. Jadi raja yang ditemui oleh Ibnu Battuta adalah raja samudra yang kedua. Hal ini juga ditegaskan oleh sumber-sumber tertulis lain, seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu. Makam Malik az Zahir ini terdapat di sebelah makam ayahnya Malikussaleh, sang pendiri dinasti samudra pasai.

Berbagai kesaksian sejarah yang lebih kemudian memperlihatkan bahwa berita Ibnu batutah tentang raja yang dikelilingi para ulama ini rupanya adalah awal dari terbentuknya sebuah tradisi kerajaan maritim Islam di nusantara. Sejarah Melayu yang ditulis pada abad ke-16 juga memberitakan tentang Sultan Malaka yang senang berdiskusi tentang masalah agama. Sumber-sumber lain pun berkisah tentang hal yang sama yang dilakukan oleh Sultan di kesultanan lain. Namun, menarik juga untuk dicatat bahwa masa awal dari berdirinya sebuah kerajaan Islam ditandai tidak saja oleh usaha konsolidasi kekuasaan, tetapi juga dan bahkan lebih penting, keterlibatan sang raja dalam pengembangan ilmu keagamaan serta penyebaran kesadaran cosmopolitanisme kultural Islam.

Begitulah dalam sejarah Asia tenggara atau Indonesia khususnya. Kisah perjalanan Ibnu Battuta selalu dikenang sebagai salah satu sumber sejarah tentang situasi nusantara di pertengahan abad ke-14. Sebagai salah satu sumber asing, laporan perjalanan Ibnu Battuta bisa dipakai sebagai alat kritik eksternal terhadap sumber setempat, seperti hikayat raja-raja pasai. Dalam hikayat ini juga diceritakan tentang perkawinan putra Sultan dengan Putri saudaranya. Tentu saja yang paling menarik ialah laporan Ibnu Battuta tentang situasi kehidupan intelektual di istana. Karena itu tidak mengherankan bila setiap kali membicarakan sejarah masa awal kehadiran Islam di Indonesia, hampir tidak ada karya akademik yang melupakan nama dan kesaksian Ibnu Battuta.

Meskipun ini hanya hal yang sudah semestinya, tapi perlu juga ditugaskan bahwa Ibnu batutah bukanlah pemerintah Arab tentang perairan nusantara yang pertama. Malah boleh dikatakan, ketika ia berkunjung, pengetahuan para ahli geograi dan pelayar Arab tentang wilayah kepulauan nusantara ini telah cukup memadai. Seorang ahli sumber-sumber Arab mengatakan bahwa pada abad ke-10, puncak pengetahuan para geograf Arab telah tercapai. Sejak itu tulisan geograf tidak lagi mengemukakan hal-hal yang belum diketahui sebelumnya. Pulau “Zabag” sebagai daerah kekuasaan “Maharaja” umpamanya, telah semenjak abad ke-7 merupakan pengetahuan yang selalu diulang dalam tradisi penulisan para geograf Arab. Berbagai pulau seperti Kalah, Sribusa, Ramni dan sebagainya dikatakan sebagai bagian dari kekuasaan Maharaja. Dengan mempelajari rute yang disebutkan tersebut, juga deskripsi yang diberikan tentang keadaan penduduk dan sebagainya, serta membandingkannya pula dengan laporan Cina, para ahli sejarah geograf modern telah dapat mengadakan identifikasi dari sebagian besar tersebut. Yang jelas, “Zabag” menyangkut pulau Sumatera, sering juga disebut sebagai “Jawa kecil”, sebagai pasangan “Mul-Jawa” atau Jawa besar yaitu pulau Jawa yang kita kenal. Kalau Ibnu Battuta mengatakan bahwa raja “Mul-Jawa” masih kufur, tentu bisa dimaklumi, karena pada waktu itu Majapahit memang sedang tumbuh menjadi pusat kekuasaan nusantara yang besar.

Peta Jadwal Perjalanan Ibnu Battuta di Asia Tenggara dan Cina, 1345-1346

Meskipun kepulauan nusantara telah cukup dikenal para geograf Arab, hanya Ibnu Battuta saja yang menuliskan atau menceritakan hasil kunjungannya sendiri. Kitabnya yang berjudul Tuhfat an-nuzzar fi gharaib al-amsar wa aja’ib al-asfar adalah satu-satunya buku orisinil yang ditulis orang Arab tentang daerah ini. Barulah di akhir abad ke-16 pelayaran Arab menghasilkan dua tulisan pendek tentang samudra Hindia. Sedangkan para geograf Arab sebelum Ibnu Battuta pada umumnya hanya mendengarkan cerita dari para pedagang dan mengulasnya berdasarkan kitab-kitab yang telah ditulis sebelumnya. Jadi kisah perjalanan Ibnu batutah lebih penting dari sudut sejarah. Ia, seperti kelihatan dalam kutipan di atas tidak hanya berbicara tentang jalan laut, jenis perdagangan atau arah angin dan sebagainya, tetapi juga masyarakat setempat yang ditemuinya. Ia bahkan memberikan komentar dan perbandingan dengan apa yang telah diketahuinya tentang negeri lain.

Tetapi jasa Ibnu Battuta tidak terbatas pada informasi yang diberikannya tentang kepulauan Indonesia. Ia juga seorang pengelana pertama yang mengunjungi seluruh dunia Islam yang dikenal pada waktu itu. Mulai dari Maghrib (Maroko) -- Afrika Utara, tempat kelahirannya -- ke jazirah Arab, sampai ke Asia kecil wilayah yang disebut para pelancong Barat, “Bulan sabit yang subur”, anak benua India, ujung pulau Sumatera sampai akhirnya ke Cina.

Ia bukan seorang turis yang datang untuk menikmati alam, budaya atau apa saja, tetapi seorang ulama yang terpelajar dalam pengelanaannya ia tak ubahnya dengan seorang wandering scholar, ulama yang selalu berkelana sambil memberikan pelayanan keilmuannya. Di berbagai tempat ia tampil sebagai penasehat atau kepercayaan sang penguasa. Tak jarang pula ia menjadi pejabat keagamaan atau utusan seorang penguasa ke penguasa lainnya. Tetapi di atas segala-galanya ia adalah seorang ulama yang selalu ingin memperdalam ilmunya dari ulama lain. Kisahnya pun dipenuhi pula dengan cerita para sufi besar yang ditemuinya. Aspek ini pulalah yang kadang-kadang dianggap oleh sebagian orientalis Barat sebagai kelemahan Ibnu Battuta -- suatu sikap yang dianggap Gibb, seorang orientalis besar Inggris yang juga salah seorang penerjemah Ibnu Battuta, sebagai salah kaprah.

Ibnu Battuta pulang ke tanah asalnya di usia senja. Catatan-catatan perjalanan serta pengalamannya itu kemudian diselenggarakan oleh Ibnu Juzayy, lalu jatuh ke tangan seorang penyalin ke penyalin yang lain. Karena itu bisa dipahami bila terkadang ceritanya tidak seimbang. Adakalanya cukup detail dan teliti, adakalanya sangat bercorak garis besar, sehingga menimbulkan kecurigaan apakah ia pernah berkunjung ke sana. Tetapi kritik internal yang telah dilakukan secara teliti semakin menaikkan kredibilitas Ibnu Battuta.

Source: Pertualangan Ibnu Battuta Seorang Musafir muslim Abad Ke-14. Terj (Ross E. Dunn), Cet ke 1. Yayasan Obor Indonesia