Menurut Ibnu Battuta, ia berada di kesultanan samudra ini selama dua Minggu. Tetapi, dengan mempelajari kisah pelayarannya dapat diperkirakan bahwa ia berada di sana lebih lama. Kemudian ia melanjutkan pelayaran, menyusuri pantai Sumatera untuk meneruskan perjalanan ke Cina. Ia singgah di Mul-Jawa yang masyarakatnya masih kufur. Dalam perjalanan kembali dari Cina, ia singgah lagi di Samudra. Ketika itu, menurut Ibnu Battuta, Sultan baru saja pulang berperang dan membawa banyak tawanan perang. Sang pelancong pun berkesempatan pula menghadiri pesta perkawinan putra Sultan dengan Putri saudaranya.
Jika kesaksian Marcopolo, yang datang pada tahun 1293, menemukan kesesuaian dengan inskripsi dan teknologi pada makam Sultan Malikul Saleh dan diperkuat pula oleh tradisi lokal sebagaimana dikisahkan dalam hikayat raja-raja pasai, menunjukkan secara pasti tentang telah berdirinya sebuah pusat kekuasaan Islam di akhir abad ke-13 (jadi seusia dengan kerajaan Majapahit di ujung timur pulau Jawa), maka kesaksian Ibnu batutah menunjukkan hubungan dagang antara Samudra (Sumatera) dengan India dan suasana kehidupan intelektual di istana. Ibnu Battuta telah mengenal Sumatera sejak masih berada di Calicut (India). Dalam kisah perjalanannya ia bercerita tentang hilir mudiknya pedagang dari Sumatera ke kota dagang itu. Ia pun bercerita tentang kedongkolannya karena dua orang budak perempuannya, menurut berita yang disampaikan kepadanya, telah diambil oleh Sultan samudera. Ia memang tidak bisa membuktikan kebenaran berita itu. Yang jelas ketika Ibnu Battuta berkunjung ke kerajaan tersebut pada tahun 1345 dan akhir tahun 1346, ia merasa telah cukup mengenal Samudra. Pengetahuan yang didapatkannya di Benggala rupanya telah cukup memadai.
Dalam kenangannya tentang kunjungannya itu ia pun
bercerita tentang sultan yang ingin memperluas wilayah kekuasaan Islam --
perang demi keyakinan agama katanya -- dan yang selalu ingin berdiskusi tentang
masalah keagamaan dengan para ulama. Dalam versi yang lengkap dari kisah
perjalanannya, Ibnu Battuta menceritakan tentang para ulama yang berdatangan
dari berbagai negeri Islam, terutama dari Persia. Dalam kisahnya itu tampak
pula kecenderungan Kosmopolitan sang raja. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
Sultan kepada Ibnu Battuta ketika mereka bertemu, dengan jelas memperlihatkan
betapa luasnya cakrawala perhatian Sang penguasa dari kerajaan Islam tertua di
nusantara itu.
Berbagai kesaksian sejarah yang lebih
kemudian memperlihatkan bahwa berita Ibnu batutah tentang raja yang dikelilingi
para ulama ini rupanya adalah awal dari terbentuknya sebuah tradisi kerajaan
maritim Islam di nusantara. Sejarah Melayu yang ditulis pada abad ke-16 juga
memberitakan tentang Sultan Malaka yang senang berdiskusi tentang masalah agama.
Sumber-sumber lain pun berkisah tentang hal yang sama yang dilakukan oleh
Sultan di kesultanan lain. Namun, menarik juga untuk dicatat bahwa masa awal
dari berdirinya sebuah kerajaan Islam ditandai tidak saja oleh usaha
konsolidasi kekuasaan, tetapi juga dan bahkan lebih penting, keterlibatan sang
raja dalam pengembangan ilmu keagamaan serta penyebaran kesadaran
cosmopolitanisme kultural Islam.
Begitulah dalam sejarah Asia tenggara atau
Indonesia khususnya. Kisah perjalanan Ibnu Battuta selalu dikenang sebagai
salah satu sumber sejarah tentang situasi nusantara di pertengahan abad ke-14. Sebagai
salah satu sumber asing, laporan perjalanan Ibnu Battuta bisa dipakai sebagai
alat kritik eksternal terhadap sumber setempat, seperti hikayat raja-raja pasai.
Dalam hikayat ini juga diceritakan tentang perkawinan putra Sultan dengan Putri
saudaranya. Tentu saja yang paling menarik ialah laporan Ibnu Battuta tentang
situasi kehidupan intelektual di istana. Karena itu tidak mengherankan bila
setiap kali membicarakan sejarah masa awal kehadiran Islam di Indonesia, hampir
tidak ada karya akademik yang melupakan nama dan kesaksian Ibnu Battuta.
Meskipun ini hanya hal yang sudah
semestinya, tapi perlu juga ditugaskan bahwa Ibnu batutah bukanlah pemerintah
Arab tentang perairan nusantara yang pertama. Malah boleh dikatakan, ketika ia
berkunjung, pengetahuan para ahli geograi dan pelayar Arab tentang wilayah
kepulauan nusantara ini telah cukup memadai. Seorang ahli sumber-sumber Arab
mengatakan bahwa pada abad ke-10, puncak pengetahuan para geograf Arab telah
tercapai. Sejak itu tulisan geograf tidak lagi mengemukakan hal-hal yang belum
diketahui sebelumnya. Pulau “Zabag” sebagai daerah kekuasaan “Maharaja”
umpamanya, telah semenjak abad ke-7 merupakan pengetahuan yang selalu diulang
dalam tradisi penulisan para geograf Arab. Berbagai pulau seperti Kalah, Sribusa,
Ramni dan sebagainya dikatakan sebagai bagian dari kekuasaan Maharaja. Dengan
mempelajari rute yang disebutkan tersebut, juga deskripsi yang diberikan
tentang keadaan penduduk dan sebagainya, serta membandingkannya pula dengan
laporan Cina, para ahli sejarah geograf modern telah dapat mengadakan
identifikasi dari sebagian besar tersebut. Yang jelas, “Zabag” menyangkut pulau
Sumatera, sering juga disebut sebagai “Jawa kecil”, sebagai pasangan “Mul-Jawa”
atau Jawa besar yaitu pulau Jawa yang kita kenal. Kalau Ibnu Battuta mengatakan
bahwa raja “Mul-Jawa” masih kufur, tentu bisa dimaklumi, karena pada waktu itu
Majapahit memang sedang tumbuh menjadi pusat kekuasaan nusantara yang besar.
Tetapi jasa Ibnu Battuta tidak terbatas
pada informasi yang diberikannya tentang kepulauan Indonesia. Ia juga seorang
pengelana pertama yang mengunjungi seluruh dunia Islam yang dikenal pada waktu
itu. Mulai dari Maghrib (Maroko) -- Afrika Utara, tempat kelahirannya -- ke
jazirah Arab, sampai ke Asia kecil wilayah yang disebut para pelancong Barat, “Bulan
sabit yang subur”, anak benua India, ujung pulau Sumatera sampai akhirnya ke
Cina.
Ia bukan seorang turis yang datang untuk
menikmati alam, budaya atau apa saja, tetapi seorang ulama yang terpelajar
dalam pengelanaannya ia tak ubahnya dengan seorang wandering scholar, ulama
yang selalu berkelana sambil memberikan pelayanan keilmuannya. Di berbagai
tempat ia tampil sebagai penasehat atau kepercayaan sang penguasa. Tak jarang
pula ia menjadi pejabat keagamaan atau utusan seorang penguasa ke penguasa
lainnya. Tetapi di atas segala-galanya ia adalah seorang ulama yang selalu
ingin memperdalam ilmunya dari ulama lain. Kisahnya pun dipenuhi pula dengan
cerita para sufi besar yang ditemuinya. Aspek ini pulalah yang kadang-kadang
dianggap oleh sebagian orientalis Barat sebagai kelemahan Ibnu Battuta -- suatu
sikap yang dianggap Gibb, seorang orientalis besar Inggris yang juga salah
seorang penerjemah Ibnu Battuta, sebagai salah kaprah.
Ibnu Battuta pulang ke tanah asalnya di
usia senja. Catatan-catatan perjalanan serta pengalamannya itu kemudian
diselenggarakan oleh Ibnu Juzayy, lalu jatuh ke tangan seorang penyalin ke
penyalin yang lain. Karena itu bisa dipahami bila terkadang ceritanya tidak
seimbang. Adakalanya cukup detail dan teliti, adakalanya sangat bercorak garis
besar, sehingga menimbulkan kecurigaan apakah ia pernah berkunjung ke sana.
Tetapi kritik internal yang telah dilakukan secara teliti semakin menaikkan
kredibilitas Ibnu Battuta.


.jpg)

0 Komentar